Masih tentang cerita perjalanan kemarin. Setelah sekian hari perjalanan ini usai, baru kali ini saya akan menceritakannya dalam beberapa bagian ya.
Ini adalah kampung suku Sasak Ende yang lebih dikenal dengan sebutan Sade Village. Di kampung ini, kita akan menemukan banyak sekali wanita2nya yang sedang asyik menenun kain dan juga kapas. Tak hanya menenun, beberapa wanita pun sangat antusias menawarkan kain tenun yang sudah menjadi berbagai bentuk seperti kain sarung, syal, rompi, setelan bahkan dompet, gelang dan kopi. Sedangkan kaum pria mendominasi dengan kegiatan bertani dan di saat musim tertentu, mereka akan menjadi guide khusus di kampung mereka sendiri. Desa yang kudatangi ini terletak di Lombok Tengah, dan dihuni oleh sekitar 200 KK (jika tidak salah ingat ya).
.
Uniknya, banyak sekali tradisi yang baru sekali saya ketahui di tempat ini, salah satunya adalah Menenun kain. Disini, seorang wanita tidak bisa menikah sampai mereka "Lulus" dalam menenun kain. Dengan syarat seperti itu, kaum wanita disini sudah belajar menenun kain dari usia 9 tahun loh. Bisa dipastikan saat dewasa nanti, urusan tenun menenun sudah menjadi urusan kecil bagi mereka. Terus gimana dong sama saya? Saya memang belum bisa menenun kain dan sekaligus sebagai ajang pembuktian kalo saya pun "lulus" menenun kain ini. Jadilah saya minta untuk mencoba alat tenun ini, sebenarnya yah khawatir jika tenunan yang telah terrangkai sebelumnya menjadi tak layak karena sudah terkontaminasi dengan tangan saya tapi oleh si ibu disamping saya ditenangkan kalo rusakpun tidak apa2. Jadilah modal nekat, diminta duduk di situ ya saya duduk, diminta memegang alat lalu digerakkan secara cepat sehingga kain tenun akan bertumpuk dengan ikatan sebelumnya. Usut punya usut akhirnya saya keasyikan membuat kain ini tapi yah saya juga tahu diri kok utk tidak merusak ikatan tenun ibu tersebut. Dan aku salut sekali dengan tradisi mereka. Sebenarnya mereka mengajukan prasyarat seperti itu agar tradisi kampung mereka bisa tetap lestari, tak akan lekang oleh zaman.
Free 3 foto aku bareng temen2 yah
Ini adalah kampung suku Sasak Ende yang lebih dikenal dengan sebutan Sade Village. Di kampung ini, kita akan menemukan banyak sekali wanita2nya yang sedang asyik menenun kain dan juga kapas. Tak hanya menenun, beberapa wanita pun sangat antusias menawarkan kain tenun yang sudah menjadi berbagai bentuk seperti kain sarung, syal, rompi, setelan bahkan dompet, gelang dan kopi. Sedangkan kaum pria mendominasi dengan kegiatan bertani dan di saat musim tertentu, mereka akan menjadi guide khusus di kampung mereka sendiri. Desa yang kudatangi ini terletak di Lombok Tengah, dan dihuni oleh sekitar 200 KK (jika tidak salah ingat ya).
.
Uniknya, banyak sekali tradisi yang baru sekali saya ketahui di tempat ini, salah satunya adalah Menenun kain. Disini, seorang wanita tidak bisa menikah sampai mereka "Lulus" dalam menenun kain. Dengan syarat seperti itu, kaum wanita disini sudah belajar menenun kain dari usia 9 tahun loh. Bisa dipastikan saat dewasa nanti, urusan tenun menenun sudah menjadi urusan kecil bagi mereka. Terus gimana dong sama saya? Saya memang belum bisa menenun kain dan sekaligus sebagai ajang pembuktian kalo saya pun "lulus" menenun kain ini. Jadilah saya minta untuk mencoba alat tenun ini, sebenarnya yah khawatir jika tenunan yang telah terrangkai sebelumnya menjadi tak layak karena sudah terkontaminasi dengan tangan saya tapi oleh si ibu disamping saya ditenangkan kalo rusakpun tidak apa2. Jadilah modal nekat, diminta duduk di situ ya saya duduk, diminta memegang alat lalu digerakkan secara cepat sehingga kain tenun akan bertumpuk dengan ikatan sebelumnya. Usut punya usut akhirnya saya keasyikan membuat kain ini tapi yah saya juga tahu diri kok utk tidak merusak ikatan tenun ibu tersebut. Dan aku salut sekali dengan tradisi mereka. Sebenarnya mereka mengajukan prasyarat seperti itu agar tradisi kampung mereka bisa tetap lestari, tak akan lekang oleh zaman.
Free 3 foto aku bareng temen2 yah


