Cari Blog Ini

Selasa, 24 Februari 2015

Hidayah

Sudah lama tak tersentuh,,
Hingga usang dan berdebu..

Ahh,, bosen. Hanya kata bosan yang setiap hari dilontarkan Rani. Dia menghabiskan waktunya dengan berselancar ke dunia maya, mulai dari satu sosmed hingga sosmed lainnya. Dia mulai bosan dengan segala kehidupan monotonnya, tapi dia juga merasa tiada berkawan. Jenuh, jemu, dan semua hal tentang kebosanan tengah menghinggapi hatinya. Sebenarnya, dia gag bosen-bosen banget sih, cuman ya itu dia ngerasa ga punya temen buat nyeritain apa yang dia rasain. Semua temen-temennya uda pada sibuk sendiri-sendiri, ga ada yang peduli juga saat dia pengen cerita. Saking bosennya, dia memutuskan untuk membuat blog, entah blog apa yang pasti dia harus buat.
#
Satu minggu berlalu, Rani telah membuat blog yang diisinya dengan segala hal yang dia rasakan, dia tak peduli entah itu pujian atau makian yang akan mampir dalam blognya. Dia merasa benar-benar frustasi dengan hidupnya. Banyak hal yang tidak sesuai dengan rencana yang telah disusunnya. Dia bosan, Dia muak, Dia jenuh dan apalah itu yang sanggup menggambarkan kebosanannya. Tiada hari tanpa mengutak-atik semua sosmed yang dia punya, tak terkecuali blog yang baru dibuatnya. Ternyata, blog barunyapun tak bisa mengatasi rasa bosan yang dihadapinya, hanya tertumpahkan sementara waktu dan sisanya tetap mengerak dalam kubang kebosanan.

Walaupun sudah berkali-kali berkata bosan, tetap saja hobinya berselancar di dunia maya tidak ditinggalkannya, malah semakin menjadi-jadi. Hingga suatu hari dia menemukan sebuah nasihat tentang sebuah buku yang dimiliki penulis, dia tak ingat jika dia pun memiliki buku itu. Dalam nasihatnya, si penulis mengungkapkan tentang obat kehidupan, selalu ada baik saat senang, sedih, merasa sendiri, galau, dan semua perasaan manusiawi lainnya. Dia pun menjadi penasaran dengan buku yang dimaksud penulis. Diberanikannya bertanya pada penulis itu melalui akun sosmednya, namun sehari dua hari juga belum dibalas hingga dia pun penasaran. Apa sih yang dimaksud penulis ini, bikin penasaran aja, rutuknya dalam hati. Hingga diapun tidak mengingatnya kembali.

Seminggu kemudian, sang penulispun menjawab pertanyaan Rani. Namun, Rani belum puas, karena penulis tersebut tidak menyebutkannya secara gamblang, namun hanya dengan isyarat. Isyaratnya seperti ini,aku dimiliki oleh tiap orang yang mengaku muslim, namun kadang diriku hanya diletakkan di sembarang tempat, aku tak pernah dibaca, terkadang dianggap sebagai jimat. Kamu pasti mengetahuiku, cobalah ingat kembali dimana kau meletakkanku??. Terkesiap, Rani mendapat balasan seperti itu, namun dirinya belum menemukan jawabannya. Rani pun meminta penulis untuk mengirimkan gambar bukunya, karena dirinya masih belum menemukan jawabannya. Kali ini permintaan Rani segera dijawab oleh penulis itu, dia mengirimkan gambar buku itu dan langsung dilihat oleh Rani. Rani lagi-lagi terkejut dengan apa yang dilihatnya. Gambar buku yang dikirimkan itu adalah buku yang dia punyai dan diletakkannya di loteng kamar. Bergegas, dia ambil buku itu, buku yang di sampul depannya tertulis "Al-quran". Seketika, dia menangis tersedu melihat bukunya telah usang dan berdebu. Dirinyapun tersadar, dan berniat untuk kembali pada Sang Pencipta-Nya. 

Kini tak lagi kuucapkan kata-kata itu,,
Kini tak lagi ku habiskan waktuku dengan berselancar,,
Namun kini akan kuhabiskan waktuku untuk memadu kasih-Mu, Ya Ilahi Robbi..

Diriku malu terlalu sering mengeluh padamu,,
Diriku malu menghabiskan waktuku pada hal tak berguna itu,,
Namun, kini ku tak ingin malu lagi untuk menghadap-Mu, Ya Tuhanku..

Maafkan diriku yang pernah menyia-nyiakanmu ...

Selasa, 17 Februari 2015

Malaikat Pelindungku


Ayah
Seorang manusia yang dikirimkan tuhan padaku
Begitu juga Bunda..

Ayah,,
Dalam diammu kau menyayangiku
Dalam diammu kau sungguh-sungguh menyayangiku
Dan dalam diammu, kau menangis untukku

Ayah,,
Tak banyak hal yang kita bicarakan bersama
Tak banyak interaksi yang kita lakukan
Hanya sebatas kalimat apa kabar,
Hingga membuat interaksi yang kita buat terasa canggung..

Ayah,,
Ingin kumulai untuk berbincang denganmu
Ingin kumulai berdebat denganmu tentang segala hal
Ingin bisa ku bermanja-manja denganmu
Kita bersama namun terkungkung dalam sekat ini


Ayah,,
Ingin kumenangis didepanmu
Ingin ku dipeluk olehmu
Ingin ku bersama denganmu selamanya

Ayah,,
Maafkan aku..
Aku hanyalah putrimu yang selalu canggung
Canggung saat akan berbicara dan melakukan semua hal denganmu
Diamku padamu bukan karna ku marah padamu..
Diamku itu isyarat sayangku padamu ayah
Tak seperti pada Bunda,,
Yang dengan gampangnya kuucapkan kalimat-kalimat sayang padanya
Akupun sayang padamu Ayah
Hanya tak sanggup bila kuucapkan melalui kata-kata

Aku tahu Ayah..
Dirimu selalu menungguku..
Selalu mendukungku saat semua orang acuh padaku
Aku tahu Ayah,,
Kau menyayangiku walaupun tak pernah kau ucapkan
Sorot matamu selalu mengatakan itu
Namun aku tahu Ayah
Bagimu kebahagiaanku itu yang terpenting
Bagimu tawaku itu yang utama
Tak ingin kau melihat diriku bersedih
Hingga kau berusaha mewujudkan segala yang kuinginkan

Ayah,,
Ingin sekali kau kupeluk
Dan kubisikkan
“Aku sayang Ayah”…

“Aku bangga memiliki Ayah sepertimu”



*dituliskan seorang anak gadis yang canggung ketika berinteraksi dengan ayahnya. Hanya lewat jalinan kata-kata ini dia berusaha mengungkapkan kasih sayangnya. 

Kamis, 12 Februari 2015

Rasional

Mencoba berfikir rasional di tengah ketidakrasionalan yang terjadi..
Bagaimana itu berfikir rasional?
Tanya awan pada langit
Berfikir menggunakan logika, itu namanya rasional
jawab langit..
Sesederhana itukah??

Ketika berfikir rasional itu sederhana,,
Kenapa ku tak pernah bisa rasional denganmu
Seorang "teman biasa" bagiku
Ah kemana rasionalitas akalku itu??
Aku yang selalu berfikir rasional,
Bahkan harus bertekuk lutut pada sebuah kata
Bahkan harus kehilangan akal sehat,
Semua itu hanya gara-gara sebuah kata...

Rasionalitas yang selama ini kujunjungpun menguap
Jika itu semua dihubungkan denganmu..
Bahkan hingga detik ini, masih saja begitu..
Aku tahu aku mulai berfikir rasional tentangmu,,
Namun ada hal lain yang lagi-lagi menghalangi rasionalitas pikiranku..

Tabir itu sudah terbuka
Bagiku, tak ada celah untuk irasional padamu..
Namun, apa???
Yang terjadi sebaliknya
Hanya berharap sang waktu dapat menghapusnya
Entah butuh berapa lama,,
Tapi kupastikan, kau akan terhapus
Hingga ku bisa tertawa lepas mengenang semua kenangan bodoh ini..

Rabu, 11 Februari 2015

Diri

Mendung menggelayut di ujung langit
Bersiap menumpahkan serdadu-serdadu tempurnya
Menyiapkan segala persenjataan
Untuk perang kali ini

Dirikupun tak luput
Menjadi korban dari perang yang kau siapkan
Bergegas ku terjang perang ini
Namun, diriku tetaplah kalah
Kalah dengan serdadu tempur yang telah kau luncurkan

Menjauhpun percuma,
Karena serdadu tempurmu tak pandang bulu
Dia menyerang, menyerang dan semakin menyerang
Beringas dan kejam serdadumu ini..
Dirikupun terlupa dengan diri
Kebasahan namun kering
Berlari namun terdiam
Tergesa namun terpaku
Diriku terjebak dengan diri

Diri menerjang semua hambatan
Namun raga tak mau bekerja sama
Diri menangis mengeluhkan semua ini
Namun raga teronggok diam tak berdaya
Diri berteriak ingin didengar
Namun raga ini membisu terkunci rapat
Diri tersenyum tak bergairah
Namun raga menutup diri rapat-rapat

Tak tahulah,,
Apa yang tengah terjadi dengan diri
Dia mulai berontak dengan diriku
Hingga dirikupun tak berdaya
Seakan tak mengerti apa yang dia mau
Mungkinkah kalian bisa mengetahuinya??
Jika bisa, bantulah diriku ...

Jumat, 06 Februari 2015

The Power of Love

Rasa suka ini mungkin akan memudar,,
Tapi aku masih bisa membangunnya kembali
Jika itu maumu..
Dan bisa meruntuhkannya seketika
Bila itu maumu..

Tak tau harus bagaimana dan seperti apa..
Kau menghabiskan waktumu untuk berpetualang
Entah berpetualang pada gadis-gadis
atau pada hal lainnya..
Sementara aku
Menghabiskan waktuku hanya dengan membuat barisan-barisan puisi
Puisi-puisi yang kata orang bertemakan cinta
Yah, cintapun bisa mengubahku menjadi seorang yang puitis..

Kata teman, aku jatuh cinta
Karena mereka membaca puisi-puisi yang kutulis
Menyimpulkan bahwa diriku tengah jatuh cinta
Apakah seperti itu memang,
Jika kita jatuh cinta maka apapun yang kita tulis
Akan menjadi barisan tulisan bermaknakan cinta..
Entahlah, itu anggapan mereka..

Bagiku, mungkin aku memang sedang jatuh cinta..
Tapi salahkah aku, jika aku menuliskannya dalam barisan kata-kata
Dari dulu, aku memang suka menulis rangkaian kata-kata
Tapi hanya sebatas kertas dan akhirnya terabaikan

Aku ingin belajar berpuisi,
Menuliskan berbagai perasaan-perasaan yang kualami
Entah itu jatuh cinta, patah hati, senang, ataupun sedih..
Aku hanya ingin menuliskannya dan berharap rangkaian kata-kata ini tersampaikan padanya
Pada seseorang yang tengah asyik berpetualang,
Entah berpetualang dengan siapa dan dimana,,
Yang pasti, saat ini dia tengah berpetualang,,
Sebelum akhirnya pulang padaku :D

Kutunggu dirimu yang tengah berpetualang

Kamis, 05 Februari 2015

Manusia Bodoh

Bodoh,,
Berkali-kali kata itu meluncur dari mulutmu
Berkali-kali pula kau maki diriku dengan kata itu
Yah kuakui,, 
Aku memang manusia bodoh
Tetap membiarkanmu bercokol dalam sudut tergelap hati ini..

Aku memang bodoh..
Membiarkanmu mengambil alih diriku..
Membiarkanmu mempengaruhiku
Hingga ku tak berdaya karenanya..

Sekali lagi, 
Diriku hanyalah manusia bodoh 
Yang tak bisa lepas dari cengkeramanmu..
Mencoba berontak sekuat tenaga
Tapi yang kudapat
hanya terperosok semakin dalam..

Kuakui diriku memang bodoh
Saking bodohnya,,
Tak sadar ku mengikuti jejakmu
Tak kusangka kau menggiringku 
Terjatuh dalam tipu dayamu..

Aku memang manusia bodoh
Inginku teriakkan kata-kata itu
Agar kalian tau,, betapa bodohnya aku
Betapa susahnya menahan ini semua
Berontakpun ku tak kuasa
Hanya dengan Doa ku ingin melawanmu
Melibasmu tiada ampun
Mungkinkah kau terlibas habis??
Entahlah,,
Mungkin hanya Tuhan yang tau 


Rabu, 04 Februari 2015

Mimpi

Jatuh, seperti ditumpahkan..
Setelah sekian lama tertahan
Berkerak dalam kediaman..

Terbang, seperti dihempaskan..
Setelah sekian lama terdiam
Melayang tanpa kepastian..

Menari, itulah yang kalian lakukan
Seakan mengejekku yang tengah terpaku 
Tersenyum, itu juga yang kalian lakukan
Saat diriku tengah menatap kalian

Dengan fasihnya, kau melenggak-lenggokkan tubuhmu
Dengan sinisnya, kau berikan senyummu padaku
Kalian mencoba menggugahku,,
Mencoba menyenggol diriku,,

Ku Terusik olehmu,,
Terbangun dan 
"Untung hanya mimpi"...

Senin, 02 Februari 2015

Pada Cinta

Pada Langit,,
Pada Awan,,
Pada Bayu,,
Ku titipkan salamku padamu..

Pada Almari,,
Pada Meja,,
Pada Kursi,,
Ku bayangkan dirimu..

Pada Dinding,,
Pada Kertas,,
Pada Seonggok daging,,
Ku tuliskan namamu..

Pada siapa lagi harus kuceritakan tentangmu..



Seabadpun diriku tak mengenalmu,,
Sewindupun juga demikian,,
Setahun apalagi..
Namun hanya sebulan,,
Yaa hanya sebulan waktuku mengenalmu
Tak pernah lebih ataupun kurang..
Tapi sebulan itu telah menjadikanku yakin padamu..

Mungkin kau kan bertanya,,
Bagaimana bisa yakin, jika bersama saja tidak?
Terus terang, akupun tak bisa menjawabnya.
Yang kurasakan hanya keyakinan saja, tanpa sebab yang pasti..

Janganlah kau tanyakan hal yang tak bisa kujawab..
Aku hanya merasakannya,,
dan diriku hanya membaginya padamu..

Ku tak memintamu untuk bertanggung jawab
atas apa yang telah terjadi padaku..
Karna itu hakku,
Hak diriku untuk menyukaimu..
Dan kuharap dirimu memakluminya..

Namun, jika memang kita tak ditakdirkan bersama..
Maka jangan kau minta diriku untuk menghapusmu dari diriku..
Ku akan menghapusmu dengan caraku sendiri
Dan kuharap kaupun mengerti..

Satu pintaku padamu,,
Janganlah ada jarak diantara kita..
Setelah apa yang terjadi sebelumnya di antara kita..
Yah,, diantara kita saja..