Cari Blog Ini

Sabtu, 19 Desember 2020

Free your life


Apa sih yang ada di benak kalian ketika melihat judul buku ini? Pasti kalian mempunyai persepsi berbeda-beda tentangnya. Penasaran kan? Iyaa dong, tenangnanti akan kujabarkan seperti apa isi buku ini. Btw kita langsung saja ya.

Buku dengan judul "Free your life, meretas perangkap kehidupan melalui analisis tulisan tangan" ini merupakan karya seorang pakar dalam bidang psikologi bernama Aurelius B. Suryaatmaja. Buku dengan tebal 137 halaman ini memuat banyak informasi tentang perangkap kehidupan yang tak disadari oleh manusia. Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama dan merupakan cetakan pertama di tahun 2012.

Buku ini mengupas tuntas tentang perangkap kehidupan dalam diri kita masing-masing. Pernahkah kalian mengalami hambatan dalam karir, hubungan dengan kolega tersendat, ataupun merasa bosan dengan pasangan? Ternyata semua itu merupakan salah satu perangkap kehidupan yang tak kita sadari. Kita hanya menganggap itu hanya hal sepele yang terjadi dalam kehidupan kita, namun pada dasarnya itu adalah perangkap kehidupan yang tidak kita sadari. Tidak semua orang bisa keluar dari perangkap kehidupan, kita tahu jalan keluarnya tapi tak cukup mampu untuk menggapainya. 

Buku ini terdiri dari 4 bagian yang disusun dalam bab sebuah wajah dalam cermin, labirin panjang dengan sebelas perangkap, mengapa kita terjebak dalam perangkap kehidupan dan sebuah kesadaran baru.

Bagian 1 akan  membahas tentang wajahmu dalam cermin. Cobalah berkaca, pasti yang kau lakukan adalah mematut diri dengan riasan sebaik mungkin. Selalu yang kita tampilkan bagi semua orang adalah wajah kita yang bahagia, ceria tanpa memandang hati kita. Seperti kutipan dalam buku ini, 

"Namun, sering kali manusia hanya memperhatikan apa yang dirasakan tubuh tanpa menyadari apa yang dialami jiwa dan batin yang kita sebut emosi." 

Ini yang selalu terlupa pada diri kita, emosi pada batin dan jiwa kita yang selalu berubah sehingga menimbulkan perasaan negatif baik itu takut, khawatir, was-was ataupun lainnya. 

Bagian 2 akan membahas tentang perangkap kehidupan. Seperti apa sih perangkap kehidupan itu? Tanpa pernah kita sadari berbagai hal atau kejadian di sekitar kita bisa membuat kita terjebak dlaam perangkap kehidupan. Disini dijabarkan 11 perangkap diantaranya merasa diabaikan, perasaan tertipu dan tersiksa dan perangkap lainnya.

Bagian 3 membahas tentang penyebab kita terperangkap selama ini. Terperangkapnya kita itu tergantung dari bagaimana kita mengambil keputusan atas setiap tindakan kita. Setiap keputusan yang kita ambil akan selalu dihadapakan pada sebuah kejadian entah kejadian baik ataupun kejadian buruk. Saat menghadapi masalah, biasanya kita akan dihadapkan 3 cara untuk menghadapinya, yaitu melawan (fight), menghindar (flight), dan bertahan (freeze). Dan pilihan yang kita ambil akan selalu menimbulkan resiko bagi kita, entah itu menjadi solusi atau menjadi ketakutan yang membelenggu dalam perangkap kehidupan. 

Bagian 4 membahas tentang bagaimana kita membangun mindset baru terhadap diri kita. Disini yang pertama harus kita ketahui adalah kita terjebak dalam perangkap kehidupan yang mana. Satu paragraf yang sangat menarik bagi saya, 

"Semakin saya melepas dan tidak melekat pada perasaan yang selama ini memenjara hidup saya, semua bayangan itu menjadi semakin jauh, semakin kecil, dan menjadi begitu kecil. Semua itu adalah bagian yang ada untuk mendewasakan saya dan tidak selayaknyasaya pegang terus, atau bahkan menjadi penghambat kemajuan saya."

Kuncinya adalah menerima dan melepaskan hal yang membuat kita terperangkap. Selanjutnya, kalian bisa membuat tabel tentang manfaat saya memegang atau melepas pikiran lama saya. 
Jika memang masih bingung, berikut saya lampirkan foto tabel yang dimaksud. 


 Menariknya di bagian terakhir buku ini ada pernyataan tentang perangkap kehidupan dan bisa diisi sesuai dengan diri anda. Semoga resensi buku ini bisa membuat kalian penasaran dan ingin membaca bukunya lebih lanjut yaa. 

Aku bonusin 1 quote favoritku yang aku dapat di buku ini ya. 



Sabtu, 05 Desember 2020

Sawang sinawang

 "Urip kui mung sawang sinawang." Berkali-kali aku dengar kalimat itu dari nenek dan ibukku. Cerita apapun yang kulontarkan selalu ditutup dengan kalimat itu. Aku sering mendengarnya hingga tak sadar aku hafal dengan kalimat itu.

***

Hari ini, tepat 4 tahun aku meninggalkan kampungku dan merantau ke pulau ini. Mengejar mimpi hingga bisa menjadi kebanggaan keluargaku di kampung. Awalnya semua berjalan biasa saja. Waktuku sebagian besar kuhabiskan dengan bekerja, bekerja dan bekerja. Tak kubiarkan diriku beristirahat walau sejenak. Bukan tak mau tapi tak bisa, ku tak bisa biarkan diriku istirahat. Semua kulakukan sesuai dengan rencanaku, banyak godaan tapi aku tetap tak bergeming. Tekadku satu, mewujudkan mimpiku menghajikan orangtua dan nenekku. Oleh sebab itu, aku menabung dan bekerja semaksimal mungkin. 


Ternyata di tahun ke 4, Allah mengujiku bukan hanya aku tapi semua manusia di bumi ini. Kami diterpa wabah yang membuat rencanaku berubah total. Separuh karyawan di tempatku bekerja di PHK, termasuk aku. Jika semua biasa teratur dan sesuai dengan rencanaku, sekarang itu semua hancur. Aku tak bekerja lagi, tak berpenghasilan lagi. Aku merasa Allah tak sayang lagi padaku. Aku merasa tak mampu melanjutkan hidupku. Semua diluar jangkauanku. 


Wabah ini membuatku terpuruk semakin dalam. Yang ku pedulikan hanya diriku, sengaja ku tak mau melihat orang lain. Aku takut dengan semua kemungkinan yang sudah ada di kepalaku. Dengan keadaan seperti itu, ternyata semangat ibadahku menurun juga. Lagi lagi aku merasa Allah tak sayang padaku. Lagi lagi aku merasa hanya diriku seorang yang menderita, yang lain tidak semenderita aku. Beberapa waktu kulalui dengan menyalahkan tuhanku. 


Lama mendekam menyalahkan tuhanku, kuputuskan untuk mencari udara segar. Kuniatkan untuk berolahraga sembari mencari sarapan di sekitar kosku. Biasanya tak sampai 5 menit aku akan menemukan Bu Ipeh penjual nasi uduk di ujung jalan, tapi kali ini Bu Ipeh sepertinya tak jualan. 


Di kelokan jalan raya itu terdapat warung nasi dan sayur mayur mentah, ku datangi untuk memesan nasi sekaligus membeli sayur mayur serta lauk untuk ku masak nantinya. Sembari duduk menunggu Bu Rahmi menyiapkan makanan, kupandangi sekitarku. Sepi, sunyi hanya ada 1 2 kendaraan saja yang lewat. Tak lama kemudian Bu Rahmi mengangsurkan nasi uduk padaku. Kulihat wajahnya yang terlihat menua, entah karena ku tak lama berjumpa atau karena kondisi saat ini. 


Sepertinya aku kelaparan, tak sampai 5 menit sudah kuhabiskan nasi uduk itu. Sembari menunggu teh panasku menjadi hangat, kuajak bu Rahmi mengobrol. 


"lagi sepi ya bu? Biasanya rame banget orang beli nasi uduk ibu." 

 "iya nak, semenjak wabah dan banyak yang di PHK warung ibu juga kena dampaknya, jadi sepi banget. Kadang malah cuman 1-3 orang aja yang beli nasi. Ibu jadi males jualan kalo sepi tapi nanti bingung ga ada pegangan uang. Ya sudah seadanya aja ibu jualan."

Aku yang mendengar jawaban bu Rahmi jadi tersadar bahwa wabah ini bukan hanya menghancurkanku tapi semua. Ya Allah kemana saja diriku ini, aku merasa akulah yang terdzalimi tanpa melihat sekitarku. Kini sepertinya aku paham arti kalimat yang sering digaungkan ibu dan nenekku, Urip kui mung sawang sinawang. Aku selalu melihat kondisi orang sesuai dengan pandanganku saja, aku tak pernah melihat bagaimana dia memperoleh itu, bagaimana cerita dia mendapatkannya tak pernah ku pikirkan. Ya Allah, terima kasih kau masih memberiku rizki hingga saat ini. Aku tak akan menyerah, aku yakin selama aku berusaha pasti ada jalannya. 

Terima kasih bu Rahmi sudah menyadarkanku dari kelalaian ini. 





Sabtu, 28 November 2020

Rindu

Rindu diriku padamu..

Padamu yang belum menjadi sesiapaku..

Berbagai bayangan menjelma dalam hologram ketidakpastian..

Berbagai emosi menyeruak menggebu dalam sudut kalbu..

Aku rindu..

Rindu padamu

Yang tak kutau, siapa dan dimanakah dirimu..

Kutitipkan rasa ini pada bayu

pada sang surya

pada awan

dan pada semuanya 

Berharap tersampaikan getarannya ke relung kalbumu..


Aku disini merindumu.. 



Selasa, 30 Juni 2020

Asa

Tiba tiba keraguanku muncul
Aku telah memutuskan
Dan paham akan konsekuensinya

Aku bukan menyesalinya
Tapi entahlah
Ku sendiripun tak tahu rasanya

Apakah karena asaku terlampau tinggi??
Apakah karena inginku terlalu banyak??
Entahlah, aku merasa sepi sendiri

Ataukah ini penyesalanku atas keputusan yg kuambil??
Ya robbi, akupun masih tak tahu bagaimana kedepannya
Ya robbi, kuatkan aku menahan ini semua.
Rasanya ada sesuatu yg menghimpit dada ini sehingga ku sulit untuk bernafas.

Bismillah..