Cari Blog Ini

Senin, 18 Desember 2017

Hujan

Hujan tetiba turun, membasahi dedaunan di ufuk timur. Matahari tak lagi percaya diri menyembulkan sinarnya. Begitu pula mendung yang tetap menggelayut manja. Aku masih tetap terbungkus selimut, menggeliat malas ditambah dengan suasana yang mendukung. Kuputuskan untuk tetap bergumul selimut sampai sang surya memanggilku.

Tak lama berselang, Surya mengusikku dengan terangnya. Seakan ia tak rela melihatku terbungkus hangat. Mau tak mau kuputuskan tuk menggeliat, berjalan terseok menuju kamar mandi. Hanya kubasuh wajah dan kusikat gigiku tanpa berniat untuk membersihkan yang lain. Perlahan kulangkahkan kakiku mendekati balkon, kulihat Surya menjauh meninggalkan diriku. Terimakasih Surya telah mengusikku dengan sinarmu. Hari ini bukanlah hari yang istimewa bagiku, hari ini hari baru bagiku. Tahukah kau? Semalam mendung bergelayut di kelopak mataku hingga menjatuhkan bulir-bulir hujan yang deras. Tahukah kau? Semalam kejujuranmu menyakitkanku hingga ku tersadar bahwa semua ini hanyalah sebuah angan belaka. Tahukah kau, sejak semalam ku telah membencimu, bukan benci mungkin ku hanya kecewa saja. Masih tak tega diriku tuk membencimu tapi lebih tak tega lagi jika ku masih menyayangimu. Sejak semalam, telah kuputuskan tuk tak lagi mengenal semua tentangmu.

Tersadar ku pada ikrarku semalam, takkan lagi kuingat semua tentangmu. Tapi hujan ini membuatku lagi lagi teringat tentangmu. Dan berterima kasihlah pada hujan karena semua kenangan tentangmu bermula darinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar