Cari Blog Ini

Sabtu, 05 Desember 2020

Sawang sinawang

 "Urip kui mung sawang sinawang." Berkali-kali aku dengar kalimat itu dari nenek dan ibukku. Cerita apapun yang kulontarkan selalu ditutup dengan kalimat itu. Aku sering mendengarnya hingga tak sadar aku hafal dengan kalimat itu.

***

Hari ini, tepat 4 tahun aku meninggalkan kampungku dan merantau ke pulau ini. Mengejar mimpi hingga bisa menjadi kebanggaan keluargaku di kampung. Awalnya semua berjalan biasa saja. Waktuku sebagian besar kuhabiskan dengan bekerja, bekerja dan bekerja. Tak kubiarkan diriku beristirahat walau sejenak. Bukan tak mau tapi tak bisa, ku tak bisa biarkan diriku istirahat. Semua kulakukan sesuai dengan rencanaku, banyak godaan tapi aku tetap tak bergeming. Tekadku satu, mewujudkan mimpiku menghajikan orangtua dan nenekku. Oleh sebab itu, aku menabung dan bekerja semaksimal mungkin. 


Ternyata di tahun ke 4, Allah mengujiku bukan hanya aku tapi semua manusia di bumi ini. Kami diterpa wabah yang membuat rencanaku berubah total. Separuh karyawan di tempatku bekerja di PHK, termasuk aku. Jika semua biasa teratur dan sesuai dengan rencanaku, sekarang itu semua hancur. Aku tak bekerja lagi, tak berpenghasilan lagi. Aku merasa Allah tak sayang lagi padaku. Aku merasa tak mampu melanjutkan hidupku. Semua diluar jangkauanku. 


Wabah ini membuatku terpuruk semakin dalam. Yang ku pedulikan hanya diriku, sengaja ku tak mau melihat orang lain. Aku takut dengan semua kemungkinan yang sudah ada di kepalaku. Dengan keadaan seperti itu, ternyata semangat ibadahku menurun juga. Lagi lagi aku merasa Allah tak sayang padaku. Lagi lagi aku merasa hanya diriku seorang yang menderita, yang lain tidak semenderita aku. Beberapa waktu kulalui dengan menyalahkan tuhanku. 


Lama mendekam menyalahkan tuhanku, kuputuskan untuk mencari udara segar. Kuniatkan untuk berolahraga sembari mencari sarapan di sekitar kosku. Biasanya tak sampai 5 menit aku akan menemukan Bu Ipeh penjual nasi uduk di ujung jalan, tapi kali ini Bu Ipeh sepertinya tak jualan. 


Di kelokan jalan raya itu terdapat warung nasi dan sayur mayur mentah, ku datangi untuk memesan nasi sekaligus membeli sayur mayur serta lauk untuk ku masak nantinya. Sembari duduk menunggu Bu Rahmi menyiapkan makanan, kupandangi sekitarku. Sepi, sunyi hanya ada 1 2 kendaraan saja yang lewat. Tak lama kemudian Bu Rahmi mengangsurkan nasi uduk padaku. Kulihat wajahnya yang terlihat menua, entah karena ku tak lama berjumpa atau karena kondisi saat ini. 


Sepertinya aku kelaparan, tak sampai 5 menit sudah kuhabiskan nasi uduk itu. Sembari menunggu teh panasku menjadi hangat, kuajak bu Rahmi mengobrol. 


"lagi sepi ya bu? Biasanya rame banget orang beli nasi uduk ibu." 

 "iya nak, semenjak wabah dan banyak yang di PHK warung ibu juga kena dampaknya, jadi sepi banget. Kadang malah cuman 1-3 orang aja yang beli nasi. Ibu jadi males jualan kalo sepi tapi nanti bingung ga ada pegangan uang. Ya sudah seadanya aja ibu jualan."

Aku yang mendengar jawaban bu Rahmi jadi tersadar bahwa wabah ini bukan hanya menghancurkanku tapi semua. Ya Allah kemana saja diriku ini, aku merasa akulah yang terdzalimi tanpa melihat sekitarku. Kini sepertinya aku paham arti kalimat yang sering digaungkan ibu dan nenekku, Urip kui mung sawang sinawang. Aku selalu melihat kondisi orang sesuai dengan pandanganku saja, aku tak pernah melihat bagaimana dia memperoleh itu, bagaimana cerita dia mendapatkannya tak pernah ku pikirkan. Ya Allah, terima kasih kau masih memberiku rizki hingga saat ini. Aku tak akan menyerah, aku yakin selama aku berusaha pasti ada jalannya. 

Terima kasih bu Rahmi sudah menyadarkanku dari kelalaian ini. 





3 komentar:

  1. MasyaAllah. Seringkali saya merasakan hal yang sama yaitu menganggap nasib orang lain lebih beruntung dari nasib diri sendiri.

    Terimkasih. Tulisannya menginspirasi👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kuncinya bersyukur atas hidup kita yaa..
      Sama2 belajar untuk jadi pribadi yang lebih baik lagi

      Hapus
  2. MasyaAllah luar biasa.
    Sangat menginspira👍👍👍

    BalasHapus