Cari Blog Ini

Senin, 09 Maret 2015

Asa Bunda

Tersadar, tercetak jelas bentuk jari-jarimu di pipiku. Kau tampar aku dengan tangan besarmu. Kau muntahkan semua sumpah serapahmu padaku, seakan-akan hal itu memuaskan dirimu. Tak cukup sampai disitu, lagi kau tarik rambutku seakan-akan hendak copot dari kepalaku. Selepas itu, dirimu tertawa bahagia sedangkan daku meringkuk kesakitan di pojok ruangan. Tak hanya hari itu, tapi perlakuanmu yang seperti ini sudah sering aku terima sampai-sampai diriku sudah tak mengingat lagi berapa banyak jejak yang tercipta di tubuhku. Akupun sudah tak kuat tinggal lagi bersamamu. Inginku tinggalkan dirimu, namun hati kecilku menolaknya. Tak sampai hati aku meninggalkanmu dengan cara seperti itu.
#
10 Tahun yang lalu, kita bertemu secara tak sengaja. Mungkin memang takdir yang mempertemukan kita saat itu. Di dermaga, kita bertemu. Aku yang saat itu ingin menemui sobatku secara tak sengaja bertabrakan denganmu. Terburu-buru, ku hanya meminta maaf sambil lalu. Berlari, kuingin temui sobatku disana. Namun, yang terjadi dia telah pergi menaiki kapalnya. Salahku yang datang terlambat, membuatnya menunggu hingga 2 jam di dermaga itu hingga akhirnya meninggalkanku dalam waktu yang lama. Lunglai, kuarahkan langkah kakiku menuju perjalanan pulang kembali. Lagi-lagi tak sengaja ku menabrak orang. Kembali meminta maaf padanya dan saat itulah pertama kalinya kau sapa diriku. "Lagi-lagi kau menabrakku", katamu saat itu, reflek kuangkat kepalaku dan kulihat dirimu. Aku merasa tak mengenalmu hingga kau jelaskan padaku kejadian sebelumnya. Sejak saat itu, kitapun menjadi dekat.

Entah, apa yang membuatku cocok denganmu. Kau selalu ada buatku begitupun diriku yang selalu menyempatkan diri bertemu denganmu. Bagiku, kaulah soulmateku. Denganmu aku merasa lengkap, semua yang kulakukan bersamamu membuatku bahagia. Karenanya, kita putuskan untuk membangun kehidupan berdua selamanya. Hari itu, tanggal 25 Juni 2009 kau resmi menjadi imamku. Seperti sebelumnya, kuberharap kehidupan kita tak jauh berubah. Seperti lazimnya suami istri, hidup kita selalu dilingkupi dengan kebahagiaan. Kuberharap kebahagiaan ini tak hilang selamanya.
Manusia selalu merencanakan, Tuhanlah yang menentukan. Tepat 2 tahun usia pernikahan kita, kau berubah. Entah, atas sebab apa kau berubah. Tak lagi kutahu dirimu, kau benar-benar berbeda dengan sosok yang selama ini kukenal. Awal petaka itu bermula dari dipecatnya dirimu dari pekerjaannmu. Sejak saat itu, kau selalu mengeluh dan mulai bermain kasar. Awalnya, setiap kali kau memukulku, kau seperti tak sadar saat melakukannya. Ketika kau menyadari telah memukulku, kau berubah menjadi pribadi yang kukenal. Pribadi penuh kasih itu. Aku memang kesakitan namun aku tak mau kau makin terpuruk karena hal itu. Kutabahkan diriku tiap kali kau berubah. Kutangisi diriku karenanya. Hingga hari ini, tak kupedulikan lagi sakit tubuhku. Aku hanya menyimpan harapan padamu, semoga kau kembali menjadi sosokmu yang dulu. Sosok penuh kasih sayang itu. Selama asa itu ada, aku akan selalu kuat dengan segala hal yang kau lakukan terhadapku, Suamiku


Tidak ada komentar:

Posting Komentar