Cari Blog Ini

Minggu, 08 Maret 2015

Tergantung di langit

Melihatmu, hanya itu yang kumau. Tak bisakah kulihat dirimu saat ini, hanya untuk memuaskan dahaga rinduku ini. Aku tak meminta banyak pada Tuhan, aku hanya meminta untuk bisa melihatmu saja. Kamu yang selalu menemaniku hingga saat ini. Diriku hanya bisa membayangkan dirimu dalam wujud yang sempurna, mungkin terlalu sempurna untuk menyerupaimu. Aku takut bayanganku itu membuatku tak bisa menerima dirimu sepenuhnya nanti. 
Kamu selalu berkata, "Tak usahlah bingung, aku akan selalu di dekatmu". Kalimatmu selalu menenangkan diriku. Walaupun hanya ucapan salam atau dekapan tangan telah mampu membuatku tenang. Setiap hari, kau ceritakan semua hal yang kau alami padaku, dan kulukiskan dengan imajinasiku  semua gambaran itu. Pernahkah kau sadar jika aku bahagia denganmu disampingku? Mungkin tidak, karena seringkali ku mendengar tangisanmu dalam tidurku. Kau selalu menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi padaku. Aku tak menyalahkanmu, malah kejadian itu membuatku tersadar akan arti dirimu seutuhnya. 
#
5 Tahun yang lalu, kejadian itu masih terekam kuat di memoriku. Aku dengan sombongnya berlari menjauh darimu. Bahkan ku tak sangka justru itulah akhir dari segalanya. Terkapar tak berdaya di tengah jalan raya itu, bersimbah darah di sekujur tubuhku. Tak sanggup kuingat lagi apa yang telah terjadi padaku, yang ku ingat hanyalah hamparan aspal berdarah itu. Berhari-hari setelahnya, jiwaku bagaikan terapung dalam atmosfir bumi ini. Aku melayang sesuka hatiku, mengikuti sang bayu ke semua tempat yang dikunjunginya. Aku merasa bahagia, namun juga merasa aneh. Aneh karena ku tak bisa lagi menyapa semua orang yang kutemui dan bahagia karena ku menemukan petualangan baru. 
#
"Dia koma, saya belum bisa memastikan keadaannya seperti ini sampai kapan. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuknya", itulah kata-kata yang diucapkan dokter. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar