Beberapa minggu menjelang UAS, Bapak tersebut tetap datang on-time dan hanya mendapati 1 orang muridnya yang datang on-time. Mungkin, Bapak itu sudah jenuh dengan tingkah murid-muridnya itu hingga Beliau menumpahkan rasa kesalnya pada murid-muridnya. Yah, mungkin batas kesabaran Beliau telah habis sehingga Beliaupun menumpahkan segala kekesalannya selama ini. Jika dipikirkan dengan lebih lanjut, yang membutuhkan ilmunya adalah murid-muridnya itu, namun mereka justru mengacuhkannya. Toh bisa saja Bapak tersebut meninggalkan murid-muridnya dan tetap menerima gaji. Tapi yang justru dilakukannya adalah selalu menunggu murid-muridnya, menunggu mereka dan bersiap membagi ilmunya pada mereka.
Beliau adalah sosok dosen muda yang akan jarang kita temui di zaman sekarang ini. Jika aku bandingkan dengan dosen-dosen yang pernah mengajariku selama ini, mereka tidak akan pernah mau jika diminta menunggu murid-muridnya, yang ada dosen tersebut malah marah dan tidak peduli lagi dengan keberadaan kita sebelum kita meminta maaf padanya. Namun, sosok yang satu ini sangat berbeda. Beliau bahkan menyempatkan datang mengajar saat salah satu anggota keluarganya berada di rumah sakit, tetapi ternyata yang terjadi adalah terlambatnya kedatangan murid-murid Beliau. Akupun tak habis pikir, bagaimana cara mereka menghargai Dosen mereka ini. Beliau mengajariku arti tanggung jawab, arti keikhlasan yang sesungguhnya dari tugas seorang pendidik. Beliau tetap mempertanggung jawabkan segala konsekuensi dari pekerjaannya dan tetap ikhlas mengajarkan ilmunya walaupun terkadang sikap murid-muridnya keterlaluan. Beliau sosok pendidik ikhlas yang mungkin akan sulit kita temui di zaman yang seperti ini. Semoga akupun bisa menjadi sosok pendidik seperti Beliau, yang selalu menunggu dan mengajarkan ilmu pada murid-muridku nantinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar