Disudut jalan itu, kulihat sebuah sepatu usang berwarna putih. Terlihat namun tak dianggap, seperti itulah sepatu di sudut jalan itu. Rasanya ingin kuambil dan kubersihkan dirimu, namun aku takut. Aku takut pemilikmu mencarimu, aku takut pemilikmu merasa kehilanganmu. Seperti itulah diriku, yang selalu ketakutan bila bertemu orang asing. Dari jendela kamar ini, kuperhatikan dirimu yang tetap setia di situ, tak beranjak barang seincipun. Hujan dan panas yang selalu menerpamu, seolah-olah tak pernah kau pedulikan. Dari balik jendela ini, ingin rasanya kutelusuri perasaanmu. Mungkinkah ku bisa?
Tiba-tiba, aku terbangun dengan sepenuh rasa yang tak bisa kuungkapkan. Rasa ini membuatku betah dan tak merasa kesepian lagi. Ingin diriku mempunyai rasa ini selamanya, tak ingin bila harus berpisah. Rasa yang membuat hari-hariku bersinar, rasa yang mampu menggeser awan mendung menjadi tetes-tetes hujan yang berjatuhan hingga terbentuklah pelangi. Ingin kumiliki rasa ini sepenuhnya, hanya saja ku tak tahu nama dari rasa ini. Hidupku tiba-tiba dipenuhi dengan berbagai petualangan, tantangan dan segala hal yang berarti. Aku merasa ada di atas gunung, ada di lautan, di pasar, sekolah, jalan, dan seluruh tempat berwarna. Diriku seakan berlari mengejar sang angin, seakan melompat di udara, dan seakan melayang di angkasa. Aku yang selama ini terabaikan merasa berharga dengan hadirnya rasa ini. Dan tiba-tiba....
Braakk, ku tersadar seketika itu juga. Semua hal yang kurasakan tadi ternyata hanyalah mimpiku semata. Tak ada rasa itu, rasa yang kurasakan dalam mimpiku. Kusadari, sepatu itu telah berada dalam genggamanku. Entah kapan atau siapa yang memberikannya padaku, yang pasti sepatu itu kini berada dalam pangkuanku. Yah, pangkuanku, pangkuan seorang gadis yang ingin merasakan rasa itu. Rasa bahagia saat kutapakkan kakiku ke tanah di bawahku, saat ku berlari mengikuti angin dan saat ku melompat di udara. Mungkinkah ini hanya impian? Ku tak tahu.
Jika kuingat kembali masa itu, aku merasa bersalah. Bersalah karena tak pernah mensyukuri nikmat-Mu, yang kulakukan hanyalah mengeluh tanpa berusaha. Takdir, mungkin dia yang selalu kupersalahkan akan kejadian masa lalu itu. Namun kini, ku tak ingin lagi mengeluh, ku tak ingin lagi menyalahkan takdir yang ada karena... .Yaa, karena kini telah kujejakkan kakiku di puncak tertinggi pulau Jawa, Gunung Semeru. Di tempat ini, ku ucapkan segala syukurku pada-Mu Ya Illahi Robbi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar