Ghaisan Altamis, panggil seorang guru mengabsennya. Dia tak bergeming sedikitpun, bahkan sepertinya Dia tak mendengar suara-suara di sekelilingnya. Dia masih asyik memikirkan suatu hal dengan kepala kecilnya itu, hingga seorang kawannya menepuk pundaknya. Heh,, hanya satu kata itu yang terlontar dari mulut kecilnya dan setelah itu dia bungkam seribu bahasa. Tak ada yang tahu kehidupannya, entah itu guru, teman-teman sekelasnya bahkan Ayahnya pun tak tahu bagaimana hari-harinya dihabiskan. 15 tahun sudah, Dia menjalani kehidupan seperti itu, seakan-akan dirinya dihantui oleh rasa bersalah. Bahkan dirinyapun tak memahami rasa bersalah apa yang telah membuatnya terkungkung selama ini. Tak banyak yang mengenalnya, bahkan dia merasa tak mengenal dirinya. Semua yang dialaminya tersimpan dalam sudut hati terdalamnya.
#
Ghaisan, nama yang tak pernah kuketahui maknanya. Ingin ku menanyakannya pada Ayah, namun setiap ku ingin bicara, rasanya kata ini tersangkut di tenggorokanku. 15 tahun usiaku, namun terlihat memendam begitu banyak permasalahan. Ku berharap bisa menumpahkan segala unek-unek yang mencengkeram sudut hatinya. Entah dengan siapa kelak ku bisa berbagi, membagikan segala hal yang kurasakan selama ini. Sepertinya, diriku memang tak mempunyai satupun teman di sekolah ini. Aku merasa berteman dengan Ibu Ratna, guru kelasku yang sangat sabar dalam mengajari kami. Beliau tak pernah marah saat ada murid-muridnya yang ramai, yang pasti dilakukannya hanyalah tersenyum dan diam hingga kamipun menyadarinya dan berangsur terdiam. Ibu Ratna, diriku ini sangat berharap menghabiskan waktu yang ada denganmu saja, tidak dengan yang lainnya.
"Ghaisan", ku mendengar kau memanggil namaku. Akupun menoleh bu, karna ku tau bahwa kau yang memanggilku. Tak ingin diriku ini mengacuhkanmu bu, walaupun dirimu hanya memanggilku untuk mengabsenku. Ibu Ratna, bisakah kau lihat segala resah ini, yang membuatku tak sanggup mengatakannya pada siapapun, termasuk juga Ayahku. Ibu, diriku berharap kau dapat menolongku dengan tatapan mata teduhmu itu. Ingin rasanya diriku ini mempertanyakan segala hal yang tak kuketahui padamu, termasuk menanyakan arti namaku ini. Ku sadari aku tak berhak menanyakan makna namaku ini padamu, karna kau bukan Dia. Mungkin hanya itu satu-satunya harapanku mengetahui makna yang tersembunyi. Mungkin kau akan bertanya dimana Ayahku dan apa yang dilakukannya, dan akupun tak bisa menjawab itu Bu, semua kata itu tersembunyi di sudut hatiku. Yah, ini hanya khayalanku saja, bisa mengajakmu berbicara dan menumpahkan seluruh keluh kesah hati ini.
#
Lima bulan sudah kau mengajar di kelas kami bu, di kelas paling badung ini. Selama itu pula, aku mengikuti pelajaranmu dengan aktif, berharap kau melihatku. Namun yang terjadi, kau tak pernah melihatku bu, atau mungkin ini hanya perasaanku saja, entah ku tak mengerti. Saat ini akan ku kumpulkan segala keberanianku agar bisa berbincang serius denganmu. Mungkin dengan begitu, aku bisa bahagia. Tapi, manusia hanya pandai merencanakan saja, ynag memutuskan tetaplah Allah SWT.
Yah, hari itu saat ku memutuskan berbincang denganmu, kau memintaku datang menemuimu. Rupanya wali kelasku telah bercerita padamu. Kau memanggilku karena penasaran denganku, aku menyukainya bu saat kau bertanya-tanya tentang diriku. Entah karena merasa nyaman, ku tumpahkan segala keluh kesahku padamu, bahkan makna namaku ini. Kau mendengarkanku bu, setiap detail dari ceritaku kau selami dengan begitu dalamnya. Berbagai keluh kesahku itu membuatmu menangis, dan tak ingin ku perlihatkan semburat air mataku ini jatuh tepat didepanmu. Ibu, mungkin hanya terima kasih yang bisa kuucapkan padamu karna telah mendengar cerita-ceritaku ini. Bahkan, kaupun memberikan makna sebenarnya dari semua keluh kesah ini.
Katamu, namaku itu merupakan nama terbaik yang pernah didengarnya. Ghaisan Altamis, yang bermakna panglima rupawan. Tak salah orang tuamu memberimu nama ini, karna kaupun menjadi seperti itu, panglima rupawan. Panglima tak akan menang jika selalu terkungkung rasa bersalah, itu katamu. Diriku yang dungu ini tak memahami ucapanmu hingga kau mengubahnya menjadi kata sederhana yang kupahami. Yah, kau mengatakan seperti itu karna diriku ini selalu hidup dalam rasa bersalah. Rasa bersalah karna telah membuat malaikatku meninggalkan dunia ini, membuat malaikatku yang lain kehilangan arti hidup ini. Yah, kuakui kau tepat sekali memahaminya bu. Diriku selalu merasa bersalah karna kelahiranku membuat Ibu kandungku meninggal dunia, membuat Ayahku merana karnanya. Aku tak pernah bisa menerima keadaan itu, aku adalah pembawa sial bagi seluruh orang-orang di sekelilingku. Tapi, kau tak menganggapku begitu, justru kau bangkitkan diriku ini dengan kata-katamu. "Ikhlaskan saja nak, anggaplah Ibu sebagai Ibu kandungmu dan juga ayahmu", kata itu terlontar dari mulutmu dan membuatku tak kuasa menahan butiran air yang telah menggayuti pelupuk mata ini.
Yah, sejak saat itu, kuanggap kau malaikat baruku bu. Malaikat yang selalu melindungiku dan mendampingiku hingga ku menyelesaikan jenjang pendidikanku ini. Kau tak pernah membedakanku dengan yang lainnya, kau tetap sama adilnya dalam memberikan cintamu bu. Hanya terima kasih bu yang bisa kuucapkan semenjak saat itu. Aku sadar terima kasih saja tak akan cukup untuk membalas semuanya, sejak saat itu hingga sekarang. Terima kasih karna telah mengasihiku dulu hingga sekarang. Aku akan selalu membahagiakanmu bu, dengan caraku sendiri. Terima kasihku padamu, Malaikatku ibu Ratna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar